MENULIS ADALAH MUDAH DAN MENYENANGKAN

Menulis bukan pekerjaan yang mudah atau mungkin dapat juga dikatakan mudah tetapi sulit dilakukan karena kita belum mengetahui seni menulis.  Menulis itu merupakan “art” atau seni.  Ada kasus-kasus dalam menulis di mana pengaturan cara berpikir, apakah dilakukan atau tidak dilakukan menjadi tidak penting. Dengan menulis bisa sebagai pelipur lara, refresing, tempat curhat, dan juga bisa untuk mencari uang. Tapi ingat menulis jangan digunakan untuk mencari popularitas dan itu akan membuat kita alpha. Menulis jadikanlah wahana untuk mencari pengalaman dan mengekspresikan luapan emosi dan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

Saya (Anies Wahyu N) semester 4 (empat) IPB mempunyai pengalaman seputar menulis dan bagaimana dengan menulis mengantarkan saya mencapai sebuah rahasia Illahi yang luar biasa dahsyat dan bermanfaat. Sejak di SMA saya mulai suka menulis dan sering mengikuti berbagai perlombaan kepenulisan, salah satunya penyajian makalah. Saya mulai berani menulis di kelas 2 SMA karena saya terinspirasi oleh salah satu siswi SMA BAKTI  menjadi salah satu finalis Lomba Karya Ilmiah Nasional. Dalam hati kecil saya berkata, “suatu saat nanti saya harus bisa mengikuti jejaknya”! Hampir tiap hari kata-kata itu selalu membanyangi setiap langkah kemana pun saya pergi.

Pada awalnya, menulis sangatlah susah bagi diri saya sendiri. Saya mengalami kesulitan pada tahap pra penulisan yang meliputi penemuan ide, pengumpulan bahan, penyeleksian bahan, perumusan masalah, dan penetapan tujuan. Saya berkali-kali gagal dalam perlombaan menulis. Saya juga pernah kesulitan mencari guru pembimbing yang cocok dengan jalan pikiran saya. Itu semua kadang menghambat saya dalam menulis, dan pernah terbesit dalam benak hati saya untuk berhenti menulis atau mengikuti lomba-lomba. Di sekolah pun saya sering diolok-olok teman dan guru “ sudah berapa kali kamu ikut lomba-lomba namun tidak satu pun yang berhasil”!!  Namun saya tidak berhenti begitu saja, saya terus bangkit dan mencoba sampai berhasil.

Hingga suatu hari saya ditunjuk sekolah mengikuti lomba Siswa Teladan se-Kabupaten Ponorogo. Di sekolah, prestasi saya tidak begitu menonjol mungkin ini suatu kebetulan dan anugerah Allah yang istimewa. Saya mempersiapkan semua persyaratan lomba tersebut. Salah satunya adalah membuat makalah. Saya disarankan oleh salah satu di SMA BAKTI pergi ke rumah pak Tedjo untuk mencari bahan dan membantu menyelesaikan makalah.

Sebelumnya saya tidak kenal dengan beliau walau mengajar di SMA BAKTI. Saya kenal sebatas guru saja. Pertama saya ketemu beliau benar-benar di luar dugaan saya. Pak Tedjo sosok guru yang berbeda dengan guru lainnya. Saat mengajar beliau tidak serius sering main-main saja. Tetapi saatnya serius beliau sangat berbeda dalam menyampaikan materi pelajaran jurnalistik dan Bahasa Indonesia. Beliau selalu membuat kami berfikir dan berimajinasi setinggi mungkin untuk menjawab semua pertanyaan beliau. Catatan yang diberikan hanya sedikit lainnya disuruh mengembangkan sendiri. Selain itu, beliau terlihat guru yang “nggledis” dengan celetohan dan jokesnya. Pokoknya aneh!!!

Namun, saya keliru hanya melihat stereotypenya saja. Setelah kenal beliau semuanya berubah 180 derajat. Saya tercengang bimbang dan bertanya-tanya sebenarnya siapakah beliau?? Kemudian saya teringat suatu pepatah “jangan melihat orang dari sampulnya saja”. Memang benar sekali, sosok Pak Tedjo yang terlihat sebenarnya sangat berwibawa, ramah, soleh, pandai, dan banyak pengetahuan yang membuat orang haus akan pengalaman dan cerita-cerita dari beliau. Tutur kata beliau yang lembut dan dan penuh semangat selalu membuat orang rindu dan termotivasi mendengarkannya. Semenjak itu saya mulai akrab dan sering konsultasi mengenai menulis.

Di rumah beliau saat saya bertanya mengenai penulisan makalah sebagai salah satu syarat Lomba Siswa Teladan, tiba-tiba dengan nada lantang beliau mengatakan” Kenapa kamu ikutan lomba seperti ini? Mendingan ikut lomba tingkat nasional”. Saya kaget dan bingung, emang saya bisa? Beliau selalu menyakinkan saya kamu pasti bisa, coba dulu jangan pesimis begitu! Lakukanlah jangan diam saja!

Pada hari berikutnya saya mulai tertarik untuk mengikuti Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Nasional dan mulai mengerjakan subtansi tulisan ilmiah sesuai dengan bidang yang saya ambil yaitu bidang sastra. Beliau memberikan dua kumpulan puisi dari Taufik Ismail dan Hamid Jabar. Kemudian saya disuruh untuk membaca, memparaprase, dan membandingkannya. Saya lebih tertarik pada kumpulan puisi Taufik Ismail dan melanjutkan menjadi sebuah karya ilmiah dengan bimbingan dari pak Tedjo. Berhari-hari saya tidur larut malam untuk menyelesaikannya kadang bolos pada jam belajar di sekolah. Saya terus berjuang dan bersabar untuk segera menyelesaikannya kemudian dikirim ke Dikti Jakarta.

Beberapa bulan kemudian tepatnya pada bulan Agustus 2006 ada surat panggilan finalis LPIR untuk mempresentasikan hasil karyanya di depan juri, salah satunya adalah saya. Karya Ilmiah saya berjudul “ Menggali Nilai-nilai Kehidupan di Balik Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufik Ismail telah lolos menjadi finalis dan akhirnya saya mendapat Juara II Tingkat Nasional. Sungguh suatu anugerah dari Allah, puji syukur alkhamdulilah saya bisa menang setelah sekian lama gagal. Kini perlahan-lahan saya bisa membuktikan bahwa dengan menulis dan kerja keras serta keuletan bisa mengantarkan saya menuju kesuksesan. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada pak Tedjo sebagai guru pembimbing sekaligus motivator saya, bapak Agung Pramono (Kepala Sekolah SMA BAKTI), orangtua, guru, dan teman-teman. Berkat dukungan mereka saya bisa seperti ini.

Selain itu, saya bisa masuk Institut Pertanian Bogor jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat melalui jalur PMDK dengan sertifikat juara II tersebut. Setapak demi setapak telah berlalu kini saatnya saya harus melanjutkan menulis dan merajut prestasi di IPB. Pada bulan November 2008 saya mengikuti lomba penulisan artikel antar mahasiswa se-Jabodetabek yang diadakan oleh BEM KM IPB. Di luar dugaan saya, saya mendapat juara II. Padahal, saya merasa kurang persiapan dalam menulis. Saya mulai mencari bahan satu minggu sebelum penyerahan artikel ke panitia. Pencarian ide yang menarik untuk dijadikan tulisan juga sebentar. Kemudian saya menyusunnya. Sebelum dikirim saya meminta koreksi dari teman sekelas untuk membaca dan mengomentarinya sudah bagus, runtut, dan sesuai atau belum. Salah satu teman saya mengatakan, “ Anies, tulisan kamu ini tidak cocok antar paragrap terlalu bertele-tele dan judul kurang memukau untuk diikutkan lomba”!

Saya kembali merenungkan kata teman saya untuk ditelaah lebih lanjut guna menyempurnakan tulisan saya. Seharian saya merubah semuanya, saya membuat kerangka dan poin-poin penting terlebih dahulu kemudian merangkainya menjadi paragrap yang padu dan menarik. Saya begadang sampai larut malam untuk menyelesaikannya. Siang harinya artikel itu saya kumpulkan. Saya pasrah apa pun hasilnya mengingat tulisan artikel itu saya kerjakan sehari sebelum hari H. Saya berdoa semoga ada keajaiban artikel saya bisa masuk lima besar se-Jabodetabek. Dan akhirnya bisa masuk Juara II. Senang sekali saya dengan hasil itu. Ternyata semakin mepet dengan waktu dateline semakin optimal saya mengerjakannya (maaf bukannya saya sombong). Saya akan terus menulis dan menulis. Banyak pengalaman dan ilmu baru yang saya dapat.

KEULETAN, KERJA KERAS, DAN KEINGINAN BERBUAT MODAL TERBESAR DALAM MENULIS. KEGAGALAN ADALAH SUATU KESUKSESAN YANG TERTUNDA. MENULIS MUDAH DILAKUKAN, JANGAN CEPAT PUAS SELALU MENCOBA DAN MENCOBA!!!!