MAHASISWA, PERTANIAN VS PEMILU 2009

Sejarah perjalanan bangsa membuktikan bahwa sumber daya manusia yang memiliki komitmen tinggi yang sebagian besar didominasi oleh kalangan muda. Berbekal idealisme dan keyakinan akan masa depan bangsa,  masyarakat yakin bahwa elemen muda dengan sifat reformis diharapkan dapat membangun bangsa ini. Mahasiswa sebagai agent of change mempunyai peran dan kontribusi tinggi dalam memajukan pertanian. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pertanian sebagai soko guru dalam pembangunan nasional. Namun, sangat kontroversial bahwa minat mahasiswa ke bidang pertanian mulai menurun.

Bogor (27/2) saat ditemui Koran Kampus, Prof.Dr.Ir.Didy Sopandie, MAgr Dekan Fakultas Pertanian mengatakan bahwa pada “tahun 2008 dari 30 Perguruan Tinggi Pertanian di Indonesia non IPB terdapat 2400 kursi kosong”. Kaum muda tidak mau masuk ke profesi bidang pertanian karena di masyrakat citra pertanian masih dipandang sebelah mata. Banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya, kurangnya sosialisasi yang memberikan informasi tentang prospek pertanian, belum ada apresisasi yang cukup untuk lulusan sarjana pertanian dibandingkan bidang non pertanian serta bidang pertanian pun belum menyejahterakan petani. Senada dengan ungkapan Bapak Didy, Bu Sriani Sujiprihati Dosen Faperta mengatakan bahwa, “sekarang ini terjadi kekurangan ahli Pemulia Tanaman karena para ahli sudah pensiun tanpa diimbangi oleh peminat calon Pemulia Tanaman untuk meneruskan Pemuliaan Tanaman menjadi soko guru awal dari roda pertanian agar dapat berjalan”.

Pertanian Menjelang Pemilu

Menjelang pemilu 2009 isu-isu pertanian menjadi isu penting yang diangkat oleh beberapa parpol. Boleh saja isu pertanian disuarakan oleh parpol asalkan mempunyai pengetahuan cukup tentang pertanian bukan mengklaim pertanian sebagai keberhasilan sepihak. Selain isu pertanian, kemiskinan, pendidikan, Millenium Development Goals (MDGs) banyak juga diangkat parpol menjelang Pemilu. Bukanlah hal yang mudah dalam menggarap isu-isu pertanian strategis dalam kampanye, perlu dilakukan pembahasan. Usulan-usulan terobosan diperlukan untuk menjawab masalah kesejahteraan petani, stabilitas pangan, dan pengembangan diversifikasi dibandingkan debat sengit soal pangan murah dan swasembada pangan.

Kemudian parpol harus memiliki strategi untuk memastikan tersedianya pasokan sarana dan prasarana produksi pertanian sehingga biaya produksi pangan lebih murah. Harapannya parpol ke depan harus mampu merumuskan paradigma baru, mengangkat citra pertanian, dan meningkatkan daya saing bangsa. IPB sebagai fasilitator pendidikan juga harus memberikan informasi yang cukup, baik, dan benar mengenai pertanian.

Isu-isu pertanian yang diklaim beberapa parpol tersebut, kemudian prestasi mereka diusung dalam suatu iklan untuk mengangkat citra partai politik tertentu, pertanyaan yang kemudian muncul adalah benarkah swasembada yang kita raih saat ini terjadi atas kerja keras partai itu? Atau, seberapa jauh suatu partai layak mengklaim keberhasilan itu sebagai bagian dari usaha mereka?

 

Perspektif Mahasiswa Pertanian

Pemilikan lahan rata-rata kurang dari 0,5 hektar, infrastruktur pertanian yang kurang memadai, organisasi petani dan kualitas sumber daya manusia yang lemah, masih rendahnya dukungan kelembagaan dan manajemen pengelolaan pertanian yang belum mengarah ke kaidah bisnis, telah mengakibatkan usahatani menjadi kurang menarik secara ekonomis, karena belum mampu memberikan jaminan sebagai sumber pendapatan untuk hidup secara layak. Hal itu diperjelas oleh ungkapan Anne Syifaurrahmah (AGH 44) mengatakan bahwa pertanian saat ini mengalami kemunduran, ketahanan pagan kurang, dan seharusnya parpol menyejahterakan petani dan harus dibuktikan dengan kelakuan secara teknis. Richad Gunawan (MSL 43) juga mengatakan bahwa, mahasiswa berperan sebagai pengawas harus bisa mengontrol kinerja mereka untuk mewujudkan kesejahteraan. (Diambil dari berbagai sumber) ANZ